Archive for June, 2008

06
Jun

Friendship & Relationships

FriendDi suatu titik dalam kehidupan, manusia merasakan kesepian. Manusia membutuhkan teman. Kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lain tidak dapat diingkari. Kesepian dirasakan ketika manusia beranjak dewasa dan mulai berusaha untuk menghidupi dirinya secara mandiri. Suatu peralihan dari masa kanak-kanak ketika dia mempunyai teman, ke suatu masa lain yang banyak dinilai dengan materi.

Pada masa kanak-kanak, seorang teman ada hanya untuk berbagi suka dan duka tanpa harus memikirkan hari esok, penghidupan dan kehidupan. Untuk menikmati hidup dan berbagi.

Pada saat manusia mulai beranjak dewasa, teman-teman sepermainan kemudian akan mengejar penghidupannya masing-masing dan menghilang satu demi satu. Interaksi yang ada kemudian berkisar terutama pada pekerjaan dan membina koneksi demi penghidupan.

Kemudian manusia menciptakan pernikahan. Pada pernikahan terjalin suatu hubungan pertemanan antara dua orang manusia. Pernikahan seharusnya menjamin adanya seorang teman untuk berbagi suka dan duka.

Di titik ini ß mengerti ucapan seorang guru waktu ß masih SMP. Beliau kurang lebih berucap bahwa pacaran didasarkan pada cinta, dan pernikahan lebih didasarkan pada kebutuhan. Pada saat itu, ß menginterpretasikan “kebutuhan” sebagai kebutuhan biologis dan insting berkembang biak. Tetapi akhirnya ß bisa mengerti bahwa ada lebih dari itu, yang lebih fundamental, kebutuhan akan seorang teman.

Masalahnya, manusia yang beranjak dewasa ini, mulai lupa cara untuk berteman. Terbiasa dengan cara berinteraksi dalam pekerjaannya, dan bukan kehidupannya. Sehingga akhirnya pernikahan tidak bisa memenuhi kebutuhannya akan teman.

Kembali pada pertemanan, pada saat ini, entah bagaimana, ß sebagai laki-laki merasakan sungkan kalau misalnya ß harus mengajak teman laki-laki ß untuk misalnya shopping atau nonton di bioskop. Mungkin ß terpengaruh oleh pandangan umum, bahwa pada usia seperti ini, berteman seperti itu akan tampak aneh. Pendek kata: gay (buat temen-temen yang gay, sori, pointnya: banyak temen ß yang ‘gak akan mau diajak). Bersosialisasi dengan sesama laki-laki harus dilakukan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih maskulin: camping, main sepak bola, panjat dinding, arung jeram.
Untuk kegiatan lainnya, seperti: nonton film baru, shopping bulanan, nyoba resto baru, nongkrong di cafe, potong rambut, sebaiknya dilakukan sendiri, atau secara massal (tidak berdua), atau dengan seorang perempuan.

Sekarang bagaimana kalau ß akhirnya jalan dengan seorang teman perempuan? Orang akan memandangnya sebagai suatu bentuk pendekatan atau mungkin malah sudah pacaran. Kenapa harus seperti itu, ß ‘gak tau. Seakan-akan dunia tidak bisa menerima kalau seorang laki-laki bisa berteman dengan seorang perempuan tanpa hubungan khusus, atau tanpa menuju hubungan khusus tersebut. Sehingga ketika ß memulai untuk jalan dengan seorang perempuan, ß selalu khawatir disalahartikan. Apalagi kalau jalan dengan seorang perempuan yang sedang mencari teman sehidup-sematinya. Gawat!
Kekhawatiran ini bukan tanpa sebab. ß seorang altruis berhati lemah. Kadang ß ‘gak tega mengecewakan atau disangka mempermainkan. Terpaksa. ß terpaksa menawarkan status, lalu dengan demikian malah terjerumus dalam permainan yang akan lebih mengecewakan.

Seorang laki-laki berteman dengan seorang perempuan memang menyenangkan. Sejauh kita bisa menjaganya tetap biasa dan casual. Walau sesuai kodratnya, perbedaan gender mungkin dapat memicu sapuan-sapuan seksual, dari tingkat kata-kata, sentuhan, pegangan tangan, pelukan, ciuman bahkan yang lebih dari sekedar sapuan-sapuan. Tetapi hal ini ternyata tidak harus terjadi sama sekali, walau mungkin suatu saat tingkat toleransi ini akan berkembang. Tingkat toleransi setiap orang bebeda-beda, sesuai dengan latar belakang dan kepribadiannya. Mungkin ada yang menganggap pegangan tangan sudah merupakan batas casual. Tetapi mungkin ada yang nyaman dengan ciuman, bahkan mungkin ada yang nyaman mencapai intercourse.
Tetapi sekali lagi, tidak harus.

Lalu muncul pertanyaan….
Haruskah seorang lelaki menikah?
Dapatkah seorang deist menikah di Indonesia?
Jawabannya nanti saja.
Masih terlalu menikmati menjadi pengamat.
Hubungan antar manusia adalah hal yang sangat menarik….