16
May
08

Sphere of My World

Sphere_3

Cuaca mendung di
suatu hari di awal bulan Mei. Bulan ke-5 di sistem penanggalan Masehi. Sudah
empat bulan aku menjalani hidup sebagai pengangguran. Menikmati, terhanyut,
muak dan segalanya. Setelah terbiasa bekerja sepanjang hari, sekarang bisa
membuang-buang waktu seperti manusia yang akan hidup selamanya.

Kadang-kadang
pergi ke kampus untuk membuka e-mail, mengurus ini-itu, rekomendasi,
surat-surat, bersosialisasi. Tetapi lebih sering aku tidak tidak keluar dari
rumah selama berhari-hari. Selama itu pula tidak merasakan perlunya bercukur,
mandi, ataupun mencari seseorang untuk berbicara seperti makhluk sosial
lainnya. Ini adalah suatu kehancuran nilai-nilai yang tiada seorang pun akan
tahu kecuali keluarga, di rumah tempat aku membunuh membantai waktu dan masa
mudaku.

Manusia hidup
selamanya saat ia mati. Inilah aku yang sedang mati. Menikmati kematian. Ini
adalah kematian saat bernafas. Pikiranku melayang tak keruan tak berguna, cabul
dan nostalgik. Begitu besar rahasia-rahasia hitam dalam hidupku yang berloncatan
mengganggu saat-saat sendiri ini.

Dalam pemikiran
kontemplatif, ada saat-saat manusia mati dan ada saat-saat manusia bangkit.
Kebangkitan rohani, kebangkitan spiritual (walau tetap skeptis akan kebangkitan
jasmani). Kebangkitan akan datang, dan pada saatnya aku akan tiada lagi merasa
mati, teralienasi.

Kehidupan.
Menjadi misteri bagi manusia pada saat ia berada dalam pemikiran
kontemplatifnya sendiri. Apakah manusia hidup untuk dirinya sendiri? Untuk
keluarganya? Untuk negaranya? Untuk bangsanya? Untuk dunia? Untuk Kemanusiaan?

Kehidupan….

Dalam siklus
kehidupan manusia ada 2 kondisi emosional yang ekstrim: kebahagiaan dan
kesedihan. Kebahagiaan….

Kebahagiaan
adalah perjumpaan dan kesedihan adalah perpisahan. Sesederhana itu.

Bagaimanapun aku
mencoba menghindari siklus ini. Suatu saat aku akan menghadapinya. Tidak
terhindarkan. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semua adalah siklus. Tidak ada
yang abadi, bahkan kekosongan yang kujaga….

Dalam kekosongan
aku mendambakan perjumpaan. Dan pada saat perjumpaan itu aku akan bahagia.
Kemudian…. Aku berusaha menjaga kebahagiaan itu dengan pernak-pernik dengan
candu-candu. Dengan kegiatan-kegiatan bersama, dengan menikmati kebersamaan
itu. Tetapi tiada yang seindah saat perjumpaan. Di saat manusia perlahan
membuka diri terhadap sesamanya. Mengenal pribadinya, mengenal jiwanya. Dan
kemudian saat itu berakhir. Dan tiada suatu pernak-pernik, tiada suatu candu
yang akan mampu mengembalikan keindahan itu. Dan perjumpaan telah lewat….
Perjodohan telah usai.

Di persimpangan
jalan ini, sang manusia dihadapkan pada dua pilihan: berpisah atau bertahan.
Ketika manusia memilih untuk berpisah, manusia ini memiliki kesempatan untuk
merasakan perjumpaan berikutnya. Mungkin. Atau bahkan jera oleh perpisahan ini.
Dan memilih kekosongan.

Ketika manusia
memilih untuk bertahan, artinya manusia ini menunda untuk dipisahkan oleh suatu
kekuatan yang lebih besar, yang mungkin diluar kuasanya sendiri. Mungkin. Atau
mungkin lebih sederhana, dia bertahan sampai salah satu menyerah kepada
perpisahan.

Kesedihan….

Perpisahan….

Mungkin oleh
jarak, mungkin oleh kematian, mungkin akibat ketidakcocokan karakter. Tetapi
manusia tersebut terpisah. Setiap manusia mempunyai dunianya masing-masing. Aku
membayangkan setiap manusia berada di dalam sebuah sphere. Ketika manusia
berinteraksi dengan sesamanya, maka terdapat ruang irisan antara kedua buah
sphere masing-masing. Ukuran sphere ini berbeda-beda, tergantung seberapa besar
kehidupan sosialnya. Aku mempunyai ukuran sphere yang cukup kecil. Aku tidak
menyukai sosialisasi yang tidak penting. Karena ukuran sphere yang kecil ini,
irisan yang tercipta saat interaksi dengan manusia lain relatif besar bagiku.
Kerusakan yang akan diakibatkan oleh perpisahan akan besar. Walaupun
implikasinya keindahan yang tercipta oleh perjumpaan akan besar pula.

Saat ini dan
seterusnya aku menjaga kondisi sphere ini stabil. Biar semuanya hampa, biar
semuanya hambar, biar semuanya kosong. Biar aku senantiasa mendamba, supaya
bisa kukenal keindahan dalam mendamba.

 

Begitulah
teman-temanku….

Dari aku, yang
hanya akan selalu mendamba….




0 Responses to “Sphere of My World”


  1. No Comments

Leave a Reply