31
May
06

Deisme

 Deisme
adalah suatu bentuk kepercayaan terhadap Tuhan yang didasari oleh logika dan
penalaran. Seorang deist menolak agama terorganisir dan agama wahyu yang memercayai
keberadaan Tuhan berdasarkan tradisi dan wahyu.

Secara etimologi,
deisme berasal dari dua kata, yaitu deus (Latin) yang berarti Tuhan dan isme
yang berarti paham. Dibedakan dari theisme yang berasal dari kata theos
(Yunani) yang juga berarti Tuhan. Theisme menerima iman dan wahyu sebagai dasar
dari kepercayaan terhadap Tuhan.

 Banyak
deist yang menerima penalaran “Sebab Pertama” sebagai dasar kepercayaan
terhadap Tuhan. “Sebab Pertama” telah mulai dikemukakan sejak zaman Aristoteles
dan Plato. Banyak filsuf yang menyempunakan dan mengemukakan argumen-argumen,
termasuk Thomas Aquinas.

 Argumen
“Sebab Pertama” secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

 “Segala sesuatu memunyai sebab
dan tidak ada sesuatupun yang dapat menciptakan dirinya sendiri, atau segala
sesuatu yang ada disebabkan oleh sesuatu yang lain. Rantai sebab tidak mungkin
memunyai panjang yang tak hingga, karenanya pasti ada suatu sebab pertama.”

Secara makrokosmos, dengan melihat seluruh
alam semesta, argumen kosmologi tersebut mencoba menganalogikan keberadaan
Tuhan sebagai “Sebab Pertama”

“Segala yang mulai menjadi ada memunyai sebab. Alam semesta mulai
menjadi ada, karenanya alam semesta memunyai sebab.”

 Selain argumen kosmologi di atas,
keberadaan Tuhan juga dihayati melalui apresiasi pribadi terhadap struktur
keteraturan dan kerumitan yang ada di dalam alam dan alam semesta.

 Namun definisi tentang Tuhan dan
Ketuhanan seorang deist adalah abstrak dan melampaui pengertian manusia pada
saat ini. Dengan kata lain, bahasa manusia terlalu terbatas dan tidak cukup
untuk mendefinisikan Tuhan. Secara nalar, manusia hanya dapat berspekulasi
tentang Tuhan. Salah satu spekulasi adalah alam semesta adalah Tuhan dan Tuhan
adalah alam semesta, seluruh alam semesta mengandung substansi Tuhan (Pantheist).
Definisi Tuhan yang impersonal dan abstrak sering menyebabkan deist disamakan
dengan atheist.

 Berdasarkan konsep Tuhan-Pantheist, Tuhan
memunyai hubungan dengan seluruh isi alam semesta termasuk manusia, sehingga
hubungan manusia dengan Tuhan merupakan hubungan transpersonal yang sangat
pribadi. Paham inilah yang menyebabkan seorang deist tidak menganut agama
tradisional maupun agama terorganisir.

 Dalam masalah moral, deist percaya
bahwa kemanusiaan memunyai kemampuan untuk menggunakan nalar untuk
mengembangkan prinsip-prinsip etika dan moral dan pada dasarnya manusia dapat
dituntun oleh suara hatinya dalam masalah moralitas.

 Deist juga percaya kepada hukum-hukum
alam, terutama dalam persamaan derajat antara setiap manusia, baik laki-laki
maupun perempuan. Deist-humanis bahkan percaya bahwa segala tindakan individu
adalah usaha seluruh umat manusia untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Secara ekstrim, tindakan individu yang “merusak” adalah pemicu bagi lebih banyak
individu lainnya untuk memperbaiki. Setiap individu manusia di bumi memiliki
fungsi tanpa terkecuali dalam mengembangkan kemanusiaan.

 Tujuan hidup manusia menurut deisme
adalah menggunakan nalar untuk mengerti makna dari kehidupan pribadinya dan
menjalankan fungsinya dalam pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Pada tataran
yang lebih tinggi, tujuan hidup manusia adalah persatuan harmonis dengan seluruh
alam semesta.

 Meskipun seorang deist tidak memercayai
campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia, tetapi deist masih menganggap doa
sebagai suatu bentuk meditasi, pengkondisian mental dan amplifikasi “substansi
Tuhan” dalam diri manusia yang dapat meningkatkan efektivitas usaha manusia.

 Pada dasarnya, deist-humanis
menganggap bahwa agama adalah faktor penghambat bagi perubahan dan perkembangan
kemanusiaan, namun deist pada umumnya menghormati pandangan-pandangan lain tentang
Tuhan dan agama-agama lain selama manusia yang dipengaruhinya merasa nyaman di
bawah naungannya.




0 Responses to “Deisme”


  1. No Comments

Leave a Reply