engkau telah mati dalam bahasaku,
di atas pusaramu kupahatkan ukiran cintaku,
sekantong oleh-oleh dari duniaku.
altar kuilku semakin sepi, semakin dingin,
semakin kotor,
tiada pernah mampu menahan cercaan jarak dan
kasta,
hancur sisakan kepingan runcing bernama
kenangan.
musim kini begitu berarti di tulangku,
dan perjodohan telah usai,
kurindu kau selalu dalam janji untuk
melupakanmu.
<…. Palu, 29042006>
Sendiri kuterduduk di tepianmu,
Menantang anginmu dengan dada telanjang,
Melihat mereka bermain bola,
Melihat mereka bermain air,
Melihat mereka bermain jetski.
Kucoba menangkap indahnya,
Matahari tenggelam di Kahyangan,
Kulihat pasangan yang duduk berdua,
Kumau mereka mati,
Lalu aku pun pergi….
<ditulis saat terbakar terik matahari 08052006>

Di tepianmu ingin aku berlari telanjang ke
dekapanmu,
Di tepianmu ingin aku melompat ke riak airmu
Di tepianmu ingin kucicipi air susumu yang
biru,
Hembus angin di wajahku membawa bau garam keringatmu
Gawalise merayu aku mendaki dan kagumi lekuk tubuhmu
Di terik matahari kurasakan panasnya gairahmu
Nelayan menjauh dikejar surutmu
Lamunanku buyar di bunyi ponselku
Diam-diam kuhapus nomormu dari daftarku
<ditulis ketika ß merasa di rumah 08052006>
