Archive for May, 2006

31
May

Irreligion: A critic upon religion.

A man without a religion is generally called an atheist. This is not necessarily so, some people do believe in the existence of God, but do not believe in religion. Some people can be irreligious, but still believes in the existence of God. They should not be called atheists.

Why a man chooses to be irreligious?
I am 26 years old at the moment. I was baptized a Catholic since baby, in Indonesia, a country with Islam as the major religion. I must admit that most of my understanding about God and the existence of God came from Catholic education. I went to a Catholic elementary school and went to state school afterwards. During my life on the society, my view about religion is changing.
From my religious education, I developed some kind of “platonic love” for my friends which consist of various religions. On the other hand, I also learned about a doctrine which pronounces the religion to be the only way toward salvation; although Catholic Church also accepted that there is salvation in other religions, but most biblical religion accepted the doctrine literally.
I simply can not accept the doctrine that implies that my friends and I will not be saved together in the afterlife. On the crossroad between religion and humanity, I stood. Therefore, I question the meaning of salvation, I question the afterlife, I question god, and I question religion.
From my point of view, I see religion as a way, a mean to establish a relationship betweem human and The Creator and a system of beliefs, symbols, and patterns of human behaviors derived from tradition and culture of the birthplace of the religion. But now, religion is failing and I think religion control on humanity should end.
Failure of religion from my point of view as a humanist:
1. Fail to see human race as a part of the universe; instead religion tends to be a human claims about themselves and about god. Some of the most unacceptable claims are:
- that human is the most precious creation of god (arrogance of human)
- god loves human, listens to human, even act as a slave to fulfill human needs (humanizing god)
- most of the major religion teaching are tainted with sexual chauvinism (men are created before women), and in daily ritual practices, women are considered as the second gender.
2. Other implication of failing to see human race as a part of the universe, religion failed to acknowledge the extra-terrestrial life. Extra-terrestrial life existence, in my opinion is highly possible:
- considering UFO sightings all over the world.
- considering the number of stars, the probability of the existence of other solar systems which have similarity with our solar system, and the probability of the existence of an earth-like and habitable planet. (I don’t have the number, but I still do think that extra-terrestrial life exists.)
3. Religion is passed to the next generation as a legacy, not a choice by divine guidance. Therefore, the growing number of adherents of the major religion only indicates the population’s growth rate. If a certain religion wants majority domination in a certain area, they would only have to tell their adherents to breed more, then in some centuries majority domination would come. In other hand, if the major religion wants to eliminate this threat, they only have to commit genocide or in a more subtle way: suppression and conversion.
4. Most religion teachings failed to see human actions as system for a better level of humanity. They simply embrace “good” and despise “evil”. They cannot see that human actions, whether it is good or evil are meant for the grace of humanity. They only see human black and white, rather than grey.
5. Most religion has rules that conduct the manners and the relationship between men. Some would find this restraining and cruel against virtue and against humanity.
6. Most religion encourages prejudices, and maltreatment against unbelievers. Induces war and violence (against humanity). And claims that there is no salvation in the afterlife for unbelievers.
7. Most religion considers temptation as a threat that must be destroyed, avoid, not an obstacle to face as a mean to empower the adherents’ faith. This is also a set back in the development of humanity.
8. The teachings of religion are claimed to be timeless, but this is inconsistent with the teaching about the fate of the people prior to the birth of the religion, in the afterlife.
9. The teachings of religion are claimed to be timeless, most of large religion claims that there will be no more prophet, they will never acknowledge another prophet, although in their teaching, prophets are sent in the moment of chaos, such as nowadays, and the years to come. They have closed the possibility, and their teaching will be considered true eternally, with the changes upon the world.
10. Science and religion are outcomes of humanity development, yet religion is an inhibitor factor in the development of humanity, in contrast with science which enhances the development of humanity.
11. The story about the creation of the universe in the teaching of most religions (especially Abrahamic Religions) is misleading, dangerous and often leads to misinterpretation.

31
May

Deisme

 Deisme
adalah suatu bentuk kepercayaan terhadap Tuhan yang didasari oleh logika dan
penalaran. Seorang deist menolak agama terorganisir dan agama wahyu yang memercayai
keberadaan Tuhan berdasarkan tradisi dan wahyu.

Secara etimologi,
deisme berasal dari dua kata, yaitu deus (Latin) yang berarti Tuhan dan isme
yang berarti paham. Dibedakan dari theisme yang berasal dari kata theos
(Yunani) yang juga berarti Tuhan. Theisme menerima iman dan wahyu sebagai dasar
dari kepercayaan terhadap Tuhan.

 Banyak
deist yang menerima penalaran “Sebab Pertama” sebagai dasar kepercayaan
terhadap Tuhan. “Sebab Pertama” telah mulai dikemukakan sejak zaman Aristoteles
dan Plato. Banyak filsuf yang menyempunakan dan mengemukakan argumen-argumen,
termasuk Thomas Aquinas.

 Argumen
“Sebab Pertama” secara sederhana dapat digambarkan sebagai berikut:

 “Segala sesuatu memunyai sebab
dan tidak ada sesuatupun yang dapat menciptakan dirinya sendiri, atau segala
sesuatu yang ada disebabkan oleh sesuatu yang lain. Rantai sebab tidak mungkin
memunyai panjang yang tak hingga, karenanya pasti ada suatu sebab pertama.”

Secara makrokosmos, dengan melihat seluruh
alam semesta, argumen kosmologi tersebut mencoba menganalogikan keberadaan
Tuhan sebagai “Sebab Pertama”

“Segala yang mulai menjadi ada memunyai sebab. Alam semesta mulai
menjadi ada, karenanya alam semesta memunyai sebab.”

 Selain argumen kosmologi di atas,
keberadaan Tuhan juga dihayati melalui apresiasi pribadi terhadap struktur
keteraturan dan kerumitan yang ada di dalam alam dan alam semesta.

 Namun definisi tentang Tuhan dan
Ketuhanan seorang deist adalah abstrak dan melampaui pengertian manusia pada
saat ini. Dengan kata lain, bahasa manusia terlalu terbatas dan tidak cukup
untuk mendefinisikan Tuhan. Secara nalar, manusia hanya dapat berspekulasi
tentang Tuhan. Salah satu spekulasi adalah alam semesta adalah Tuhan dan Tuhan
adalah alam semesta, seluruh alam semesta mengandung substansi Tuhan (Pantheist).
Definisi Tuhan yang impersonal dan abstrak sering menyebabkan deist disamakan
dengan atheist.

 Berdasarkan konsep Tuhan-Pantheist, Tuhan
memunyai hubungan dengan seluruh isi alam semesta termasuk manusia, sehingga
hubungan manusia dengan Tuhan merupakan hubungan transpersonal yang sangat
pribadi. Paham inilah yang menyebabkan seorang deist tidak menganut agama
tradisional maupun agama terorganisir.

 Dalam masalah moral, deist percaya
bahwa kemanusiaan memunyai kemampuan untuk menggunakan nalar untuk
mengembangkan prinsip-prinsip etika dan moral dan pada dasarnya manusia dapat
dituntun oleh suara hatinya dalam masalah moralitas.

 Deist juga percaya kepada hukum-hukum
alam, terutama dalam persamaan derajat antara setiap manusia, baik laki-laki
maupun perempuan. Deist-humanis bahkan percaya bahwa segala tindakan individu
adalah usaha seluruh umat manusia untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Secara ekstrim, tindakan individu yang “merusak” adalah pemicu bagi lebih banyak
individu lainnya untuk memperbaiki. Setiap individu manusia di bumi memiliki
fungsi tanpa terkecuali dalam mengembangkan kemanusiaan.

 Tujuan hidup manusia menurut deisme
adalah menggunakan nalar untuk mengerti makna dari kehidupan pribadinya dan
menjalankan fungsinya dalam pengembangan nilai-nilai kemanusiaan. Pada tataran
yang lebih tinggi, tujuan hidup manusia adalah persatuan harmonis dengan seluruh
alam semesta.

 Meskipun seorang deist tidak memercayai
campur tangan Tuhan dalam kehidupan manusia, tetapi deist masih menganggap doa
sebagai suatu bentuk meditasi, pengkondisian mental dan amplifikasi “substansi
Tuhan” dalam diri manusia yang dapat meningkatkan efektivitas usaha manusia.

 Pada dasarnya, deist-humanis
menganggap bahwa agama adalah faktor penghambat bagi perubahan dan perkembangan
kemanusiaan, namun deist pada umumnya menghormati pandangan-pandangan lain tentang
Tuhan dan agama-agama lain selama manusia yang dipengaruhinya merasa nyaman di
bawah naungannya.

21
May

Love

Love is a manifestation of hormonal secretion,
generating fluctuation of heat in the human body, possibly triggering pheromones release,
oftenly causing unexplainable unidentified sustaining pain, when linking with the cerebral module,
driving an emotional instability, and causing impulsive actions of human beings.

But basicly,
love is a manifestation of hormonal secretion….

14
May

Atheist

If afterlife exists,
If heaven and hell exist,
If there is no salvation outside your religion,
I’d rather go to hell….

08
May

oleh-oleh dari duniaku

engkau telah mati dalam bahasaku,

di atas pusaramu kupahatkan ukiran cintaku,

sekantong oleh-oleh dari duniaku.

 

altar kuilku semakin sepi, semakin dingin,
semakin kotor,

tiada pernah mampu menahan cercaan jarak dan
kasta,

hancur sisakan kepingan runcing bernama
kenangan.

 

musim kini begitu berarti di tulangku,

dan perjodohan telah usai,

kurindu kau selalu dalam janji untuk
melupakanmu.

 

<…. Palu, 29042006>

08
May

Pantai Losari

Sendiri kuterduduk di tepianmu,

Menantang anginmu dengan dada telanjang,

Melihat mereka bermain bola,

Melihat mereka bermain air,

Melihat mereka bermain jetski.

 

Kucoba menangkap indahnya,

Matahari tenggelam di Kahyangan,

Kulihat pasangan yang duduk berdua,

Kumau mereka mati,

Lalu aku pun pergi….

 

<ditulis saat terbakar terik matahari 08052006>
04250108

08
May

Teluk Palu

Di tepianmu ingin aku berlari telanjang ke
dekapanmu,

Di tepianmu ingin aku melompat ke riak airmu

Di tepianmu ingin kucicipi air susumu yang
biru,

 

Hembus angin di wajahku membawa bau garam keringatmu

Gawalise merayu aku mendaki dan kagumi lekuk tubuhmu

Di terik matahari kurasakan panasnya gairahmu

 

Nelayan menjauh dikejar surutmu

Lamunanku buyar di bunyi ponselku

Diam-diam kuhapus nomormu dari daftarku

<ditulis ketika ß merasa di rumah 08052006>
04280068