Archive for November, 2005

14
Nov

Thought 15112005

Beyond surreal thoughts.

Di luar pikiran-pikiran sureal.

How do one thinks?

Thinking is an amazing bio-electrical process, including the sparks between the gray tiny little cells.

Does thinking include the reading of floating sentences somewhere in our brain? Or pronouncing it aloud in our brain?

Bagaimana seseorang berpikir?

Berpikir adalah proses bio-elektrik yang mengagumkan, termasuk kilatan-kilatan di antara sel-sel kelabu kecil.

Apakah berpikir mencakup pembacaan kalimat-kalimat yang melayang di dalam otak kita? Atau membacanya keras-keras di otak kita?

So, In what language do you think? Do you think in Bahasa Indonesia everyday? Do you also think in English as you are now reading my surreal thoughts when I had it written in English? Do you think in Mathematical Symbols when you’re doing your math homework? Or do you even think at all?

Jadi, dalam bahasa apa kamu berpikir? Apakah kamu berpikir dalam Bahasa Indonesia setiap hari? Apakah kamu juga berpikir dalam bahasa Inggris ketika kamu membaca pikiran-pikiran sureal ß kalau ß menulisnya dalam bahasa Inggris? Apakah kamu berpikir dalam simbol-simbol matematis ketika kamu mengerjakan PR Matematika? Atau apakah sesungguhnya kamu pernah berpikir?

Do Indonesians should think in English, when they are in need of communicating and understanding the people who speaks English? (This would imply - since I am Indonesian - that you should also think like Indonesian).

Apakah orang Indonesia seharusnya berpikir dalam bahasa Inggris, ketika mereka perlu berkomunikasi dan mengerti orang-orang yang berbicara dalam bahasa Inggris? (Ini juga menyiratkan – karena ß orang Indonesia – bahwa kamu juga harus berpikir seperti orang Indonesia).

Does thinking need a language at all?

If the thinking process can be disintegrated into binary system, then the mother of language would merely binary.

Language only helps to translate the information easier, especially the information in the form of secondary data.

So that would also imply that for Prehistoric-men, without a particular standard structure in their language, it was nearly impossible to develop their way of thinking.

Apakah sebenarnya berpikir memerlukan bahasa?

Apabila proses berpikir dapat dibagi-bagi menjadi sistem biner, maka induk dari bahasa akan merupakan biner saja.

Bahasa hanya membantu menerjemahkan informasi secara lebih mudah, terutama informasi dalam bentuk data sekunder.

Jadi ini juga berarti bahwa bagi manusia-manusia prasejarah, tanpa struktur standar tertentu dalam bahasa mereka, hampir tidak mungkin mengembangkan cara berpikir mereka.

How to create and maintain a true language, which have the perfect structure?

In the true language, the truest way of thinking shall develop.

Bagaimana menciptakan dan mempertahankan sebuah bahasa sejati, yang memiliki struktur sempurna? Dalam bahasa sejati, cara berpikit sejati akan berkembang.

Human are helpless. How could a man acknowledge such an absurd language? For example, these are some of the absurd things that are acknowledged all over the world, despite what the historian said about it:

September, October, November, December.

Capish? Or should I beat you stupid?

Manusia memang menyedihkan. Bagaimana manusia dapat menerima bahasa yang demikian kacau? Contohnya, berikut adalah beberapa hal ngaco yang diterima di seluruh dunia, walau apapun sanggahan ahli-ahli sejarah tentangnya:

September, Oktober, November, Desember.

Dapet ’gak? Atau harus dipukulin sampe goblok?

Kadang-kadang ß lebih gampang mengekspresikan pikiran sureal ß dalam bahasa Inggris. Jadi kalo ß tulis pake bahasa yang ’gak bisa loe ngertiin, artinya ya, loe belum cukup dewasa untuk baca pikiran sureal ß. Sori ini lho!

Beta_1

14
Nov

Wanita Nopember

7 Nopember 2005

02:15 [Den belum tidur? maaf sy mmg tth diri lancang sms den andi mlm gn]

02:30 [T’Nining belum tidur juga? ada apa teteh, banyak nyamuk?]

02:34 [Sy th status sy di sini, tp gmn jenuh jg jaga oma]

02:45 [Kumaha atuh? T’ Nining resepna naon? Ari maca mah teu resep nya? Buku teh dibaca?]

8 Nopember 2005

01:03 [Den andi kapan bnr mau k tmr]

01:06 [Saya rencana berangkat bulan ini]

01:23 [Brp lm, utk apa]

01:38 [Di Timor semingguan. Mau ketemu teman di sana sekalian nyerahin skripsi, terus mau ke Palu. Di Palu agak lama]

01:46 [Sy tdk bs melht senyum da, tdk bs mendengar suara merdunya kl menyapa sy, tdk bs ngobrol sama da]

01:54 [Hehehe. Kan masih bisa SMS. T’ Nining aja ‘gak tau nakalnya saya]

02:04 [Mmg nakalnya yg udh berkumis teh ky apa]

02:07 [Aya we, moal beja-beja ah, bisi comel]

9 Nopember 2005

02:23 [Den sdh tdr?]

02:29 [Sudah, tapi jadi bangun lagi denger SMS. Aya naon T’ Nining?]

02:34 [Sono ka aden]

02:38 [Hehehe. T’ Nining, naha bisa kitu?]

02:45 [Hoyong ngobrol lamun siang sieun ditgr ku ibu lmn ngmng]

02:56 [Isuk lamun aya waktu, tiasa ngobrol]

10 Nopember 2005

00:56 [Da, maaf, sy sdh lncng. ttg anak yg pertama, bkn anak kandung sy, tp tlg jgn blng sm ibu]

00:00 [Maaf naon deui, tos sabaraha kali? T’ Nining masih muda, geulis, naha teu nikah deui wae atuh?]

00:06 [Geulis da perempn, apalagi MO. MO. KE.]

00:11 [T’ Nining ulah kitu, engke abdi jadi mikir nu aneh-aneh]

00:14 [Emang mikir naon kitu?]

01:02 [T’ Nining, maaf saya jadi mikir yang ‘gak bener tentang teteh]

01:06 [Dihapunten pisan asal ulah sakali-kali deui. Mikir naon da]

01:14 [Mmh, saya pengen lihat T’ Nining telanjang. Maaf saya ‘gak sopan dan]

01:24 [Saya jg tdk bs tdr]

01:28 [Nanti kalo keterusan gimana?]

01:32 [Terusin aja, syapa tkt. jd gn nklnya da]

01:37 [Sebetulnya yang setan di antara kita teh siapa nyak?]

01:42 [Sini, ke kmr oma]

01:45 [T’ Nining konci kamar oma, ka kamar abdi, teu dikonci, tapi aya konci di jero.]

01:50 [Da, aja yg k sini, bisi pd bngn]

01:54 [Alim ah, ‘kan ada oma. Kalo oma bangun gimana. Pokona lamun T’ Nining nuju hoyong, ditunggu di kamar abdi.]

Pk. 04.22. Pintu kamar Andi dibuka. Andi terbangun agak terkejut. Nining naik ke atas ranjang, ke atas tubuh Andi, mencium bibir Andi. Andi membalasnya, memeluknya, mencium bibirnya, merambahi  telinga dan leher Nining. Ciuman dan permainan lidah di telinga, ditambah friksi dibalik pakaian cukup untuk membawa Nining yang sudah 11 bulan menjanda mencapai klimaks.

Pk. 04.26 “Maaf ya, Den,” bisik Nining. Nining keluar dan menutup pintu kamar Andi. Cumbuan berakhir tapi mungkin ini adalah awal dari kegilaan Andi, seorang bujangan pengangguran lulusan perguruan tinggi terkemuka berumur 26 tahun dengan Nining, seorang janda sederhana berumur 34 tahun.

11 Nopember 2005

01:30 [Wilujeng wengi, T’ Nining]

….

Four_seasons