Kalau saya seorang teroris, kalau saya seorang bomber, saya akan merasa puas dengan hasil karya saya, di Bali barusan…. Tentu bukan tangan saya yang meledakkan bom itu, kalau demikian adanya tentunya saya tidak mungkin dapat menulis ini.
Saya ingin pemerintah Indonesia tahu, saya ingin dunia tahu, bahwa pertama-tama: saya
memiliki kemampuan, memiliki potensi yang tidak dihargai secara layak. Untungnya, selain kemampuan
secara teknis, saya juga mempunyai kemampuan secara psikologis yang sudah tidak perlu dibuktikan lagi.
Mereka layak dihukum. Sebagai konsekwensi atas keangkuhan, kebodohan, kecerobohan, dan ketidakbecusan pemerintah. Karena itu, mereka harus membayar mahal! Dampak pada segala aspek yang telah diperhitungkan tidak meleset: hubungan luar negeri, mencakup sosio-politik, dan ekonomi; aspek psikologis terhadap masyarakat. Tekanan terhadap pemerintah. Semua berkembang sesuai ekspektasi.
Ingin saya mengetahui sejauh mana stabilitas nasional dapat dipertahankan? Bagaimana kalau dalam waktu dekat, saya ledakkan lagi satu buah tong sampah di depan rumah Presiden? Atau kirimkan surat antrax? Atau utuskan penembak jitu?
Bosan saya melihat televisi, manusia-manusia yang mengeluarkan pernyataan sikap, yang sebelum dibacakan sudah dapat ditebak isinya. Cermin sifat karikatif pada manusia-manusia penjilat. Mengeluarkan pernyataan sikap tidak berarti apa-apa! Hanya mengail di air keruh, hanya memperkuat secuil poin dari posisi politik mereka. Coba ulas dampaknya, dan silakan kagumi otak yang ada dibelakang semua itu.
(Sebagai evaluasi, ternyata si bodoh itu lupa, kalau saya sudah memerintahkan bom simultan memakai standar waktu Indonesia bagian Tengah, bukan waktu Indonesia bagian Barat. Sebenarnya saya sempat khawatir, si bodoh itu ketakutan dan membatalkan operasi, saya sempat khawatir si bodoh itu tidak dapat melancarkan aksinya karena keamanan sudah cukup ketat. Tapi untung operasi dapat berjalan walau tidak seluruhnya sesuai dengan rencana.)
Turut berduka cita atas peristiwa bom di Bali.
* Pemerintah artinya: pihak yang memerintah, diturunkan dari kata dasar "perintah".
Bandingkan dengan istilah "government" yang berasal dari "to govern" yang artinya mengelola, mengatur, memanage.