Musim hujan di Bandung mulai mencapai puncak kederasannya, angin berhembus dingin dan lembab. Siang itu aku tiba di stasiun Bandung jam setengah dua lebih tiga menit. Setelah kuparkir motorku, aku masuk ke dalam stasiun. Kulewati begitu saja bapak pemeriksa karcis. Mungkin memang tidak ada lagi orang yang peduli untuk membeli karcis peron.
“Lima ribu dua, A!”, seorang gadis berseragam kuning merah menawarkan sejenis minuman suplemen ketika aku lewat. Aku tidak pernah suka minuman dengan rasa yang aneh ini. Aku merasa tidak punya waktu untuk mengacuhkannya.
“Heeeuuh…!”, si gadis berseragam tadi dengan suara keras menyatakan kekecewaannya. Kurang ajar, mentang-mentang aku cuma anak muda, kumaki dia dalam hati. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya.
Cepat-cepat kucari tempat duduk yang kosong. Akhirnya kutemukan juga bangku kosong di baris kedua pada kolom kedua dari kanan. Lalu aku membuka sweaterku yang basah kehujanan. Udara Bandung terasa semakin dingin.
Di bangku hijau yang panjang itu aku duduk sendirian. Maksudku, aku tidak duduk bersama dengan seseorang yang kukenal. Peron stasiun Bandung ini ramai oleh orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sebagian sibuk membaca, sebagian sibuk mengirim SMS, sebagian lagi mengobrol (suara berdengung yang menyebalkan memenuhi telingaku). Tetapi yang pasti semua orang sedang menunggu. Menunggu kereta api, menunggu temannya, menunggu makanan, menunggu pelanggan membeli koran, menunggu kejadian menarik berlangsung di depan mata mereka, menunggu suatu akhir….
Dua tahun berlalu sejak aku dan Santi memutuskan untuk menghentikan hubungan romantis kami. Yang menurutku selalu indah, sampai-sampai kadang kami lupa bahwa ada sebentuk keindahan tersisa di sini, di dunia yang penuh dengan orang-orang yang selalu marah. Setelah putus dengan Santi, aku sempat berpacaran lagi dengan seorang gadis, teman sekampusku.
Selama dua tahun terakhir ini, aku dan Santi jarang berhubungan, tetapi kami telah sepakat untuk menjaga hubungan baik kami. Lagipula aku sudah bosan mencari musuh…. Tidak banyak yang dapat kuceritakan tentang Santi; ia teman se-SMU yang kemudian kuliah di Jakarta. Banyak hal tentang dirinya masih merupakan misteri bagiku…. Tapi yang pasti, misteri itulah yang selalu memberi inspirasi kepadaku.
Aku seorang mahasiswa, kadang-kadang aku suka menulis puisi. Bukan puisi yang indah, tapi aku tidak peduli. Bagiku, keindahan puisi bukan melulu pada keindahan bahasa, tapi pada keindahan jiwa yang tercurah di dalamnya. Banyak karya komersil menamakan dirinya karya seni, karya-karya itu mungkin indah tetapi jiwa sang seniman tidak secara maksimal tercurah ke dalamnya, atau mungkin jiwa sang seniman sedemikian terdesak sehingga terpaksa menciptakan sesuatu agar ia dapat makan.
Santi secara misterius selalu mampu memberiku inspirasi. Setiap momen bersama Santi, yang indah, yang getir, yang manis, yang pahit, selalu dapat menggugah jiwaku untuk menulis sesuatu. Dua tahun berlalu, dan aku belum menulis lagi sampai sekarang.
Santi akan pulang kembali ke Jakarta pukul tiga siang. Aku mencoba menggali rasa selama satu setengah jam di peron ini. Aku ingin menulis puisi lagi. Creato, ergo sum. Aku mencipta, maka aku hidup.
Setelah merasa siap, aku membuka tas, mengeluarkan beberapa lembar kertas dan sebatang bolpen untuk menulis. Aku merasa gelisah. Aku merasa kesulitan. Aku ingin puisi ini cukup layak untuk mengantar Santi pulang ke Jakarta, sedangkan aku telah sekian lamanya tidak menulis puisi. Lalu kubulatkan tekadku. Entahlah, mungkin puisi ini akan menjadi terlalu dangkal bagi Santi, atau terlalu transparan, terlalu lugas. Entahlah, mungkin kertas ini nantinya akan menjadi penghuni tong sampah di stasiun Gambir, atau mungkin bahkan di lantai gerbong kereta api. Entahlah, aku tidak peduli lagi. Aku ingin saja. Titik.
Kalau hujan mengiringi perjalananmu, Santi
‘Kan kumintakan bagimu secercah cahaya pasti
Kalau dingin mendekapmu dalam semilir
‘Kan kuberikan bagimu kehangatan mentari pagi
Kalau mendung menutup mentarimu
Kuhalau awan dengan anginku
Kalau cahayaku menyilaukanmu, Santi
Kubawa kembali cahayakui
Kalau mentariku membakarmu, Santi
Kubawa kembali mentariku
Kalau anginku membawa hujan, Santi
Kubawa kembali anginku
Tetapi Santi, Santi yang manis
Kalau engkau tiba di rumahmu yang baru….
Berilah sisa jejak jiwamu yang lalu….
Agar aku tak mati….
Agar sisa itu tiada tumbuh….
Di rumah barumu, sumber cemburuku.
Aku ragu-ragu…. mungkinkah sebaiknya tidak kuberikan puisi ini. Aku lipat kertas itu berkali-kali, sampai agak kumal bentuknya. Aku terus menimbang-nimbang.
“A, semir,A…. Kelihatan mengkilat, kelihatan baru lagi.”, seorang tukang semir sepatu membuyarkan pikiranku. Aku terpaksa tersenyum semanis mungkin, aku sudah kehabisan uang, mungkin terlalu banyak merokok. Tapi orang Indonesia seperti aku selalu bisa merokok walau tak punya uang.
Tiba-tiba kulihat Santi di peron itu. Aku tidak jadi membuang puisi burukku, setidaknya puisi buruk ini karya pertamaku setelah dua tahun mandul. Cepat-cepat kukantongi kertas kumal itu, lalu kubereskan kertas-kertas sisa dan kumasukkan bolpenku ke dalam tas.
Santi masih belum sadar ketika kudekati diam-diam dari belakang. Tadinya aku berniat mengagetkan Santi, tetapi entah mengapa aku urung.
“Halo !”
“Hei !” Santi tampak tidak terkejut dengan kehadiranku, tetapi Santi tampak senang. “Santi tau, Fir pasti datang.”
“Mana Dee? Kamu sendiri?“
"Dian tadi lagi ke belakang.”
“Ooo,” dalam hati aku sedikit mengomel. Rencananya aku ingin memberikan puisi ini tepat sebelum Santi berangkat. Sebab aku risih kalau harus memberikan puisi ini di depan Dian. Walaupun nantinya Dian pasti akan tahu juga. Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, kuberikan juga kertas kumal itu.
“Ini buat Santi”
Santi menerima kertas itu, dan mulai membukanya.
“Jangan dibaca sekarang! Hehehe…!”
“Hahaha, kenapa ?”
“Bacanya nanti aja, Fir malu.”
“Malu kenapa….?”
Aku bingung juga mau menjawab apa, jadi aku tersenyum lebar saja sambil mencoba mengalihkan pembicaraan, “Sebetulnya tulisan ini belum selesai. Fir pengen Santi yang bikin terusannya….”
“Hah? Apa?”
“Fir pengen liat tulisan Santi lagi.”
Santi tersenyum lembut, “Santi nggak bisa lagi. Firdaus tau….”
“Ayo dong, plis. Coba. Sekali ini aja. Buat Fir.”, batinku sebenarnya ingin berkata,
“Kalau engkau bukan milikku lagi.
Kalau engkau telah milik seseorang.
Biarlah kumiliki jiwamu.
Biarkan kumiliki jejak jiwamu, karyamu….!”
Santi tersenyum manis sekali, sebenarnya dia selalu manis kalau tersenyum, apalagi tawanya. Aku tidak akan pernah puas melihatnya tertawa lepas.
“I’ll see what I can do….”
Kereta berangkat membawa Santi bersama puisiku. Meninggalkan aku dengan sebuah janji.
(23 Maret 2003 - mungkin tiada pernah akan usai)