Archive for August, 2005

27
Aug

Heart-Shaped Box

Nirvana
(In Utero - 1993)

She eyes me like a pisces when I am weak
I’ve been locked inside your heart-shaped box for weeks
I’ve been drawn into your magnet tar pit trap
I wish I could eat your cancer when you turn back

Hsb2Hey! wait!
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice
Hey! wait!
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice
Hey! wait!
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice
Your advice

Meat-eating orchids forgive no one just yet
Cut myself on angel’s hair and baby’s breath
Broken hymen of your highness I’m left black
Throw down your umbilical noose so I can climb right back

Hsb4Hey! wait!
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice
Hey! wait!
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice
Hey! wait!
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice
Your advice

She eyes me like a pisces when I am weak
I’ve been locked inside your heart-shaped box for weeks
I’ve been drawn into your magnet tar pit trap
I wish I could eat your cancer when you turn back

Hey! wait!Hsb3
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice
Hey! wait!
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice
Hey! wait!
I’ve got a new complaint
Forever in debt to your priceless advice

Your advice (x3)

Hsb1_5

Akhirnya ß punya kesempatan buat ambil screenshots dari beberapa frame video klipnya. Video klip yang keren, lagunya enak, liriknya juga dalem….

Lagu ini mengekspresikan depresi seorang laki-laki akibat seorang perempuan, keterperangkapan dalam sebuah hubungan. Lagu yang agak emosional karena muncul dendam yang terpaksa ditahan.

Menahan dendam, menahan emosi mungkin salah satu kemampuan yang diunggulkan oleh manusia. Tentu saja tidak semua orang pandai menahan emosi. Ekstrimnya ada tipe orang yang emosional, yang mengumbar emosinya; dipihak lain ada orang yang malah over-restraining emosinya.

Tapi, seseorang di bawah tekanan lebih mudah break. Walau tidak sekarang, suatu saat pasti akan break. Sesuatu yang ditahan, suatu saat akan meledak. Percayalah!

Kalau mau lihat fakta-fakta tentang lagu ini, interpretasi dan komentar beberapa orang, silakan lihat sendiri di Heart-Shaped Box Songfacts.

23
Aug

Sin City (2005)

Sin_7Prelude:

The Man’s Narration (Josh Hartnett):

The wind rises electric.

She is soft and warm and almost weightless.

Her perfume is sweet promise that brings tears into my eyes.

I tell her that everything will be alright.

That I’ll save her from whatever she’s scared of and take her far far away.

I tell her… I love her.

The silencer makes a whisper of the gunshot.

I hold her close until she’s gone.

I’ll never know what she’s running from.

I’ll cash her check in the morning.

THE HARD GOOD-BYE:

Marv’s Narration (Mickey Rourke):

The night is hot as hell.

It’s a lousy room in a lousy part of a lousy town.

I’m staring at a goddess.

She’s telling me she wants me.

I’m not going to waste one more second wondering how I’ve gotten so lucky.

She smells like angels ought to smell.

The perfect woman.

The goddess.

Goldie.

She says her name is Goldie.

THE BIG FAT KILL:

Dwight’s Narration (Clive Owen):

The valkyrie at my side is shouting and laughing with the pure hate for blood-thirsty joy of the slaughter.

And so am I.

The fire, baby, it’ll burn us both.

There’s no place in this world for our kind of fire.

My warrior woman.

My valkyrie.

You’ll always be mine.

Always… and never.

THAT YELLOW BASTARD:

Hartigan’s Narration (Bruce Willis):

And old man dies.

A young woman lives.

Fair trade.

I love you, Nancy.

————————————————————————————————————————

Really cool movie, in black and white plus red and yellow. If you want an artistic Hollywood movie, then Quentin Tarantino is The Man!!! You can feel his touch through out the movie. He is the special guest director, along with Frank Miller who also writes the graphic novels, and Robert Rodriguez.

Rated 8.4/10 on the IMDB.

Highly and seriously recommended.

21
Aug

Rizky-Kince

21 Agustus 2005

Rizkykince2_3

Pernikahan Rizky Kanata dan Rd. Kince Sakinah.

Rizky, temen sekelas ß di kelas 1-6 SMA 3 dulu, sama-sama KANST angkatan VIII. Mungkin salah satu anak ‘98 paling cepat sukses dalam karier.

Kince, temen se-SMP di SMP 5.

ß seneng banget ketemu banyak banget temen lama, di tempat yang sama waktu wisuda SMA dulu. (Inget waktu wisuda, ß foto bareng C, habis berantem sampe nangis-nangis, gara-gara keegoisan ß).

ß berangkat bareng David dan Sonny. Di sana ketemu Ramala, Fauzia (No-H), Chris, Ewink+istrinya, Adi Pinem, Ardi, Marina, Ali Zakar, Edith, Budi kecil, Himawan+Anggi+anaknya+(Anggi juga lagi bawa anak ke dua di perutnya), Rully, Erlan, Wendy Muntur, Julizar (astaga ketemu lagi sama makhluk ini), Tiar, Emil, Aji, Gobenz, Romi, Vicky, Edwin+Talia+Pak Sarwono Hadi, Ibu Iceu dan Galih, dan beberapa lagi yang ß udah lupa namanya (atau nggak pernah tau), tapi kita sempet salaman.

"Di mana loe sekarang"

ß: "Di Bandung, pengangguran"

"Kapan nyusul, biar anak kita bareng nanti masuk SMA 3"

ß: "…" (mungkin masih lama. terlalu lama. selamanya.)

Will I ever be complete…? Should I ever be…?

Jamais, peut être…. Je ne veux jamais!

08
Aug

Puisi buat Santi

Musim hujan di Bandung mulai mencapai puncak kederasannya, angin berhembus dingin dan lembab. Siang itu aku tiba di stasiun Bandung jam setengah dua lebih tiga menit. Setelah kuparkir motorku, aku masuk ke dalam stasiun. Kulewati begitu saja bapak pemeriksa karcis. Mungkin memang tidak ada lagi orang yang peduli untuk membeli karcis peron.

“Lima ribu dua, A!”, seorang gadis berseragam kuning merah menawarkan sejenis minuman suplemen ketika aku lewat. Aku tidak pernah suka minuman dengan rasa yang aneh ini. Aku merasa tidak punya waktu untuk mengacuhkannya.

“Heeeuuh…!”, si gadis berseragam tadi dengan suara keras menyatakan kekecewaannya. Kurang ajar, mentang-mentang aku cuma anak muda, kumaki dia dalam hati. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya.

Cepat-cepat kucari tempat duduk yang kosong. Akhirnya kutemukan juga bangku kosong di baris kedua pada kolom kedua dari kanan. Lalu aku membuka sweaterku yang basah kehujanan. Udara Bandung terasa semakin dingin.

Di bangku hijau yang panjang itu aku duduk sendirian. Maksudku, aku tidak duduk bersama dengan seseorang yang kukenal. Peron stasiun Bandung ini ramai oleh orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sebagian sibuk membaca, sebagian sibuk mengirim SMS, sebagian lagi mengobrol (suara berdengung yang menyebalkan memenuhi telingaku). Tetapi yang pasti semua orang sedang menunggu. Menunggu kereta api, menunggu temannya, menunggu makanan, menunggu pelanggan membeli koran, menunggu kejadian menarik berlangsung di depan mata mereka, menunggu suatu akhir….

Dua tahun berlalu sejak aku dan Santi memutuskan untuk menghentikan hubungan romantis kami. Yang menurutku selalu indah, sampai-sampai kadang kami lupa bahwa ada sebentuk keindahan tersisa di sini, di dunia yang penuh dengan orang-orang yang selalu marah. Setelah putus dengan Santi, aku sempat berpacaran lagi dengan seorang gadis, teman sekampusku.

Selama dua tahun terakhir ini, aku dan Santi jarang berhubungan, tetapi kami telah sepakat untuk menjaga hubungan baik kami. Lagipula aku sudah bosan mencari musuh…. Tidak banyak yang dapat kuceritakan tentang Santi; ia teman se-SMU yang kemudian kuliah di Jakarta. Banyak hal tentang dirinya masih merupakan misteri bagiku…. Tapi yang pasti, misteri itulah yang selalu memberi inspirasi kepadaku.

Aku seorang mahasiswa, kadang-kadang aku suka menulis puisi. Bukan puisi yang indah, tapi aku tidak peduli. Bagiku, keindahan puisi bukan melulu pada keindahan bahasa, tapi pada keindahan jiwa yang tercurah di dalamnya. Banyak karya komersil menamakan dirinya karya seni, karya-karya itu mungkin indah tetapi jiwa sang seniman tidak secara maksimal tercurah ke dalamnya, atau mungkin jiwa sang seniman sedemikian terdesak sehingga terpaksa menciptakan sesuatu agar ia dapat makan.

Santi secara misterius selalu mampu memberiku inspirasi. Setiap momen bersama Santi, yang indah, yang getir, yang manis, yang pahit, selalu dapat menggugah jiwaku untuk menulis sesuatu. Dua tahun berlalu, dan aku belum menulis lagi sampai sekarang.

Santi akan pulang kembali ke Jakarta pukul tiga siang. Aku mencoba menggali rasa selama satu setengah jam di peron ini. Aku ingin menulis puisi lagi. Creato, ergo sum. Aku mencipta, maka aku hidup.

Setelah merasa siap, aku membuka tas, mengeluarkan beberapa lembar kertas dan sebatang bolpen untuk menulis. Aku merasa gelisah. Aku merasa kesulitan. Aku ingin puisi ini cukup layak untuk mengantar Santi pulang ke Jakarta, sedangkan aku telah sekian lamanya tidak menulis puisi. Lalu kubulatkan tekadku. Entahlah, mungkin puisi ini akan menjadi terlalu dangkal bagi Santi, atau terlalu transparan, terlalu lugas. Entahlah, mungkin kertas ini nantinya akan menjadi penghuni tong sampah di stasiun Gambir, atau mungkin bahkan di lantai gerbong kereta api. Entahlah, aku tidak peduli lagi. Aku ingin saja. Titik.

Kalau hujan mengiringi perjalananmu, Santi

‘Kan kumintakan bagimu secercah cahaya pasti

Kalau dingin mendekapmu dalam semilir

‘Kan kuberikan bagimu kehangatan mentari pagi

Kalau mendung menutup mentarimu

Kuhalau awan dengan anginku

Kalau cahayaku menyilaukanmu, Santi

Kubawa kembali cahayakui

Kalau mentariku membakarmu, Santi

Kubawa kembali mentariku

Kalau anginku membawa hujan, Santi

Kubawa kembali anginku

Tetapi Santi, Santi yang manis

Kalau engkau tiba di rumahmu yang baru….

Berilah sisa jejak jiwamu yang lalu….

Agar aku tak mati….

Agar sisa itu tiada tumbuh….

Di rumah barumu, sumber cemburuku.

Aku ragu-ragu…. mungkinkah sebaiknya tidak kuberikan puisi ini. Aku lipat kertas itu berkali-kali, sampai agak kumal bentuknya. Aku terus menimbang-nimbang.

“A, semir,A…. Kelihatan mengkilat, kelihatan baru lagi.”, seorang tukang semir sepatu membuyarkan pikiranku. Aku terpaksa tersenyum semanis mungkin, aku sudah kehabisan uang, mungkin terlalu banyak merokok. Tapi orang Indonesia seperti aku selalu bisa merokok walau tak punya uang.

Tiba-tiba kulihat Santi di peron itu. Aku tidak jadi membuang puisi burukku, setidaknya puisi buruk ini karya pertamaku setelah dua tahun mandul. Cepat-cepat kukantongi kertas kumal itu, lalu kubereskan kertas-kertas sisa dan kumasukkan bolpenku ke dalam tas.

Santi masih belum sadar ketika kudekati diam-diam dari belakang. Tadinya aku berniat mengagetkan Santi, tetapi entah mengapa aku urung.

“Halo !”

“Hei !” Santi tampak tidak terkejut dengan kehadiranku, tetapi Santi tampak senang. “Santi tau, Fir pasti datang.”

“Mana Dee? Kamu sendiri?“

"Dian tadi lagi ke belakang.”

“Ooo,” dalam hati aku sedikit mengomel. Rencananya aku ingin memberikan puisi ini tepat sebelum Santi berangkat. Sebab aku risih kalau harus memberikan puisi ini di depan Dian. Walaupun nantinya Dian pasti akan tahu juga. Akhirnya setelah beberapa saat berpikir, kuberikan juga kertas kumal itu.

“Ini buat Santi”

Santi menerima kertas itu, dan mulai membukanya.

“Jangan dibaca sekarang! Hehehe…!”

“Hahaha, kenapa ?”

“Bacanya nanti aja, Fir malu.”

“Malu kenapa….?”

Aku bingung juga mau menjawab apa, jadi aku tersenyum lebar saja sambil mencoba mengalihkan pembicaraan, “Sebetulnya tulisan ini belum selesai. Fir pengen Santi yang bikin terusannya….”

“Hah? Apa?”

“Fir pengen liat tulisan Santi lagi.”

Santi tersenyum lembut, “Santi nggak bisa lagi. Firdaus tau….”

“Ayo dong, plis. Coba. Sekali ini aja. Buat Fir.”, batinku sebenarnya ingin berkata,

“Kalau engkau bukan milikku lagi.

Kalau engkau telah milik seseorang.

Biarlah kumiliki jiwamu.

Biarkan kumiliki jejak jiwamu, karyamu….!”

Santi tersenyum manis sekali, sebenarnya dia selalu manis kalau tersenyum, apalagi tawanya. Aku tidak akan pernah puas melihatnya tertawa lepas.

“I’ll see what I can do….”

Kereta berangkat membawa Santi bersama puisiku. Meninggalkan aku dengan sebuah janji.

(23 Maret 2003 - mungkin tiada pernah akan usai)