Andi tidak takut Tuhan, Andi tidak takut Setan, Andi tidak takut Manusia.
Dia memang anak kecil yang atheis, dengan agama di KTP-nya.
Dan dengan agama di KTP-nya dia menantang setan.
Dia cinta kemanusiaan karena dia memang humanis.
"Kapan,
Andi???" Pertanyaan itu lagi, dan Andi kini berjongkok di pojok kamar
yang jorok, mengemut sejumput rambut kusut di mulut.
"Kapan lulus, anak jadah?" pertanyaan klise dengan jawaban yang selalu baru….
"Tahun depan", "Hari Sabtu", "Bulan ini", "Besok kali", "Sebentar lagi", "Oktober".
"Kapan jadi Sarjana? Kapan kerja? Kapan dewasa? Kapan cari duit? Kapan berhenti ngabisin duit ortu? Kapan berhenti main game?"
Andi pun mengenal arti kata takut.
Bukan takut Tuhan, bukan takut Setan, bukan takut ortu….
Andi
takut mengalir bersama waktu, berjalan tanpa henti sampai apokalips.
Andi takut menentang arus zaman, Andi takut menjadi budak di dunia
kerja.
Andi takut jiwa kecilnya menjadi nista oleh uang, Andi
takut pada sang takut. Andi takut pada Andi Besar yang berkumis
baplang, memakai kaca mata hitam, memakai kemeja berdasi dan jas,
memakai kredit kart, memakai mobil, memakai pena di saku, memakai
senyum, memakai politik, memakai otak, memakai keringat.
Andi
takut pada Andi Besar yang nggak bisa bikin puisi, nggak bisa nyanyi,
nggak bisa menari, nggak bisa dansa, nggak bisa senyum, nggak bisa main
game, nggak bisa ketawa, nggak bisa ngobrol sama hansip, nggak bisa
jalan-jalan ke mal, nggak bisa mati, karena memang sudah mati.
Dan waktu pula yang belai sejumput rambut kusut Andi.
Dan kedewasaan juga yang jamah Andi yang berjongkok di pojok kamar yang jorok.
Dan zaman jua yang bunuh sosok Andi yang kecil.
<ditulis di lab., ketika waktu ada untuk dibunuh…. 18 Oktober 2004>