Archive for July 7th, 2005

07
Jul

Jika Cerita Ini Usai

Di hembus angin dingin
Namaku sayup dipanggil
Tengadah kuayunkan langkah
Riang, ringan, pun menggigil

Akhir jalan penantian
Cerita baru dimulai
Tunggu aku di jalan keabadian
Kelak jika cerita ini usai….

<Ditulis di awal cerita baru, didedikasiin buat MCT 22102004>

07
Jul

20 Oktober 2002

Malam ini kubayangkan dirimu,
Terbaring sendiri di ranjang ungu,
Tersenyum, menulis kata-kata indah,
Sambil jilati es krim di Jakarta gerah.
Di malam ketiga tahun baru….
Perlahan mata indah itu terpejam,
Kubisikkan, "Selamat malam, Kasihku…."

"The show must go on
The show must go on
Inside my heart is breaking
My make up maybe fake
But my smile still stays on" *)

Aku telah mati hitam
Terhembus hari biru….

<Ditulis buat MCT yang udah lupa>
*)Queen - The Show Must Go On

07
Jul

Dare

I dare the lion to act like a lion
Unlike circus, real world needs real action

Where are your blade sharp claws?
How they are soft, like a cat’s paws?

Where are your knife like teeth?
Were they just some yesterday’s myth?

Where’s your heart, tough and strong?
Or was it me, who took you wrong?

Where are your fearless eyes?
Had them all blinded by your cries?

Now I dare the lion to act like a lion!
Behold! It’s time for a new champion!

Stop sleeping, make your days!
Wake up now, there’s still more to face

<Written inside a lion’s cage, dedicated to TD>

07
Jul

Doom Ritual

The universe freeze in silence
All praises to The Lord of Vengeance

Sense the satanic verses in the air
This bloodshed is sinful but it is fair

Your scream and your blood on the black altar
Will simbolize your faith to the Father

Ignore the pain, say that you do believe
Imagine the gain, forever you shall live

Doom Master will heal your sick soul
Doom Master will seal your cursed soul

Keep you alive under the Dark Kingdom
And get the cure for your boredom

Confess it!
Sacrifice it!
Your hate!
Your head!

Dear Mother Earth, your time is due
Doom Ritual is due
Doom Ritual is due

<Written under the Claw of Evil 24031999>

07
Jul

Setengah Jalan Menuju…

Aku berdoa, aku mendua
Aku berdosa, aku berdua
"Pegang tanganku, aku hampir tiba"
Kejang bibirku, aku tergoda
Aku butuh ini, waktu sempurna
Aku jatuh kini, nafsu manusia
Selangkah menuju bawah sadar
Telah maju basah terbakar

<Ditulis di awal perjalanan menuju bawah sadar>

07
Jul

CU4FR

A full moonlight
On my night sight
A glance
In a trance
To forget
All have been set
Whisper of sigh
To say goodbye

<Written on the full moonlight night 06032004>

07
Jul

Kisses

Love, passion in my soul,
Down in motion of tender blow.

Gentle touch inside of me,
Move me through the heat.

Sensation of thousand tastes,
Hurried in a smooth haste.

The beauty of infinite feelings,
Burst out in one meaning.

All dreams in separation,
Expressed in a single action.

The flood of every misses,
Poured in million kisses.

Anger, fear and tear are ceased,
By love in every single kiss.

<Written in a loving memory of SDP>

07
Jul

Ketakutan Seorang Andi

Andi tidak takut Tuhan, Andi tidak takut Setan, Andi tidak takut Manusia.
Dia memang anak kecil yang atheis, dengan agama di KTP-nya.
Dan dengan agama di KTP-nya dia menantang setan.
Dia cinta kemanusiaan karena dia memang humanis.

"Kapan,
Andi???" Pertanyaan itu lagi, dan Andi kini berjongkok di pojok kamar
yang jorok, mengemut sejumput rambut kusut di mulut.

"Kapan lulus, anak jadah?" pertanyaan klise dengan jawaban yang selalu baru….
"Tahun depan", "Hari Sabtu", "Bulan ini", "Besok kali", "Sebentar lagi", "Oktober".

"Kapan jadi Sarjana? Kapan kerja? Kapan dewasa? Kapan cari duit? Kapan berhenti ngabisin duit ortu? Kapan berhenti main game?"

Andi pun mengenal arti kata takut.
Bukan takut Tuhan, bukan takut Setan, bukan takut ortu….
Andi
takut mengalir bersama waktu, berjalan tanpa henti sampai apokalips.
Andi takut menentang arus zaman, Andi takut menjadi budak di dunia
kerja.

Andi takut jiwa kecilnya menjadi nista oleh uang, Andi
takut pada sang takut. Andi takut pada Andi Besar yang berkumis
baplang, memakai kaca mata hitam, memakai kemeja berdasi dan jas,
memakai kredit kart, memakai mobil, memakai pena di saku, memakai
senyum, memakai politik, memakai otak, memakai keringat.

Andi
takut pada Andi Besar yang nggak bisa bikin puisi, nggak bisa nyanyi,
nggak bisa menari, nggak bisa dansa, nggak bisa senyum, nggak bisa main
game, nggak bisa ketawa, nggak bisa ngobrol sama hansip, nggak bisa
jalan-jalan ke mal, nggak bisa mati, karena memang sudah mati.

Dan waktu pula yang belai sejumput rambut kusut Andi.
Dan kedewasaan juga yang jamah Andi yang berjongkok di pojok kamar yang jorok.
Dan zaman jua yang bunuh sosok Andi yang kecil.

<ditulis di lab., ketika waktu ada untuk dibunuh…. 18 Oktober 2004>

07
Jul

Balada Seorang Perindu Mimpi

Terbaring aku di sepi sebuah boulevard
Ingin kutanyakan kepada kamu di sana
“Adakah kemungkinan bagiku,
untuk dapatkan cintamu lagi…?”
Dan teriakku kepada langit
“Musim tiada berubah!
Fajar tak datang jua!”

Ingin kurengkuh dirimu
Dan cium bibirmu
Kusulut sejumput tembakau
Dan menyanyiku
Sebuah lagu suram
Tentang kerinduan

Kini kulihat dirimu
Di papan reklame
Di pantulan cahaya lampu jalan
Di jalan-jalan yang basah
Di wajah jam dinding
Di dalam jamban
Di atas pohon pisang
Di wajah bulan tua
Di lidah api kebakaran
… karena kamu adalah keindahan!

Seorang satpam mengusirku
Memaki aku dengan kata-kata kotor
Manusia yang menatap curiga
Mereka mau aku mati
Atau ke mana saja
Tapi aku malah berpuisi
Sebuah puisi indah
Tentang kepahitan

Kurasakan dirimu
Di sundutan bara di bibirku
Di tetes air mata seorang ibu
Di lecet kakiku karena sepatu
Di jeritan-jeritan malam
Di perut lapar anak jalanan
Di kepingan kenangan di usus buntuku
… karena kamu adalah derita!

Aku ketuk sebuah pintu kayu
Dari sebuah toko jam dinding yang sudah tutup
Ingin kuambil sebuah batu besar
Dan lempari kacanya
Tapi aku malah bermalam di depan pintu itu
Tidur oleh detik-detik monoton

<ditulis di pinggir lapangan basket waktu lagi melankolis  tongue.gif  tanggal 12 Agustus 2003>

07
Jul

Puisi Sebelum Tidur

Adakah kau tatap langit yang sama?
Adakah kau pijak bumi yang sama?

Di langitku lintaslah sebentuk bintang jatuh
Mungkin bukanlah tempat yang buat kita jauh

Mataku mengantuk saat aku mulai sikat gigi
Di kasurku benak melanglang sampai pagi

Keping-keping kenangan mendera tak henti
Muncul begitu saja tanpa urutan pasti

Aku hanya ingin tidur nyenyak di malam hari
Tanpa bayangmu, hanya cerminku sendiri

Ah, tak seharusnya kau bawa kedua tanganku!
Ajari aku cara menulis sebagai aku!

Masihkah kau tatap langit yang sama?
Masihkah kau pijak bumi yang sama?

<Bandung, 12 Agustus 2003>