16
Dec

Stupidity is a Crime, but Arrogance is Not

Pernah baca atau mendengar kalimat ini?

Knowledge is Power, but Character is More.

Kalimat di atas adalah motto dari SMU Negeri 3 Bandung.

Kontradiktif dengan pendapat β:

Stupidity is a Crime, but Arrogance is Not.

Kalau seorang manusia berkarakter baik, mungkin manusia ini tidak akan sombong atau arogan. β arogan. Jelas. Banget. Bangga. (dari premis ini jelas β bukan manusia berkarakter baik dan ideal menurut standar SMU 3 - f*ck it, β bukan anak SMU lagi, so I obviously don’t give a sh*t)

Secara empirik, kebodohan itu seringkali menyebabkan kerugian pada orang lain. Karena kebodohan, seringkali β jadi naik darah dan jelas β merasa rugi kalau harus membuang-buang waktu untuk memberi mutiara kepada babi. Jadi jelas sudah terbukti secara empirik.

No, seriously, kebodohan bisa merugikan secara material. Misalnya akibat kebodohan, seseorang merusak alat yang harganya mahal. Contoh lainnya: menghabis-habiskan dana untuk anggaran pendidikan, sedangkan mahasiswa yang dididik terlalu bodoh sehingga tidak lulus-lulus. β juga pernah menjadi mahasiswa yang terlalu bodoh ini. Jadi β juga pernah bersalah dalam konteks ini.

Menurut LaVeyan’s Satanism, Stupidity tercantum nomor satu pada daftar The Nine Satanic Sins. (β seorang deist, bukan seorang Satanist, hanya kebetulan mempelajari beberapa jenis aliran religius - termasuk Satanism - sebelum memilih deism)

Sekarang β jadi mahasiswa lagi. β berharap dengan menjadi seorang mahasiswa yang arogan, β akan malu kalau menjadi stupid dan harus lulus lama-lama. It’s some kind of self-motivating-method. Annoying to others, but I couldn’t care less.

1,5 tahun. Harga mati.

IPK 4,0: adalah bonus.

Arrogance tidak merugikan siapa-siapa, kecuali diri sendiri kok. Itu pun kalau manusia yang arogan ini sampai merasa rugi sendiri.

So what do you care anyway?

Did I hurt your pride?

So why bother?

You’re always welcome to try and disprove my arrogance.

01
Dec

How could I describe loneliness?

Loneliness is a beautiful feelings held

Loneliness is a cry in my chest that nobody would listen to

Loneliness is a drop of tear held on my eyes, when I’m confused because there’s no reason to find

Loneliness is a love against my own principles

Loneliness is a picture of you in my memory, when I need to concentrate on my works

Loneliness is an empty room in my house

Loneliness is breakfast

Loneliness is denial of your warmth, when I most needed it

Loneliness is everything that reminds me of you before my eyes

Loneliness is freezing cold wind that blows from within

Loneliness is going against logic and loving the wrong person

Loneliness is going with logic and not loving the right person

Loneliness is me avoiding your gaze

Loneliness is me being a hypocrite

Loneliness is me being a liar

Loneliness is me being dishonest

Loneliness is me being romantic and sweet

Loneliness is me being the wrong person

Loneliness is me caressing someone else’s woman

Loneliness is me compelled to write

Loneliness is me giving you no chance to choose

Loneliness is me holding principles that defines who I am

Loneliness is me knowing your true feelings and planning to kill it

Loneliness is me laying half naked with you and knowing it would end

Loneliness is me listening to gloomy songs of Nirvana

Loneliness is me listening to love songs

Loneliness is me loving you my own way

Loneliness is me missing our intimacy for the next two weeks.

Loneliness is me preparing to die alone

Loneliness is me reminiscing our times we had

Loneliness is me restraining from looking onto your picture

Loneliness is me sleeping with every girls

Loneliness is me trying to kill my own heart

Loneliness is me waiting for your message and having no desire to write first

Loneliness is me wanting you as a friend when I can’t be one

Loneliness is me wanting you to be happy but won’t be that happiness

Loneliness is me waving goodbye with a smile on my face and a pain in my heart

Loneliness is me wishing you happy on your marriage

Loneliness is me working hard day and night

Loneliness is me writing this instead of my proposal presentation

Loneliness is me, pitiful and despicable

Loneliness is my pride and my ego

Loneliness is pain in the stomach which no medicine could cure

Loneliness is pouring cold November rain

Loneliness is selfish me being unselfish

Loneliness is the future without you within

Loneliness is the path I took

Loneliness is the weight of your bracelet on my wrist

02
Jul

Marriage

Marriage_1Divorce_1
It wouldn’t work on me.
How would I be able to stay loyal to a single woman, when I loved so many?
How would I be able to stand a single woman for the rest of my life, when I’m bored so easily?
How would I be able to be a man, when I am still so selfish and childish?

Is it necessary anyway?
Is it the only way?

There must be another way….

06
Jun

Friendship & Relationships

FriendDi suatu titik dalam kehidupan, manusia merasakan kesepian. Manusia membutuhkan teman. Kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lain tidak dapat diingkari. Kesepian dirasakan ketika manusia beranjak dewasa dan mulai berusaha untuk menghidupi dirinya secara mandiri. Suatu peralihan dari masa kanak-kanak ketika dia mempunyai teman, ke suatu masa lain yang banyak dinilai dengan materi.

Pada masa kanak-kanak, seorang teman ada hanya untuk berbagi suka dan duka tanpa harus memikirkan hari esok, penghidupan dan kehidupan. Untuk menikmati hidup dan berbagi.

Pada saat manusia mulai beranjak dewasa, teman-teman sepermainan kemudian akan mengejar penghidupannya masing-masing dan menghilang satu demi satu. Interaksi yang ada kemudian berkisar terutama pada pekerjaan dan membina koneksi demi penghidupan.

Kemudian manusia menciptakan pernikahan. Pada pernikahan terjalin suatu hubungan pertemanan antara dua orang manusia. Pernikahan seharusnya menjamin adanya seorang teman untuk berbagi suka dan duka.

Di titik ini ß mengerti ucapan seorang guru waktu ß masih SMP. Beliau kurang lebih berucap bahwa pacaran didasarkan pada cinta, dan pernikahan lebih didasarkan pada kebutuhan. Pada saat itu, ß menginterpretasikan “kebutuhan” sebagai kebutuhan biologis dan insting berkembang biak. Tetapi akhirnya ß bisa mengerti bahwa ada lebih dari itu, yang lebih fundamental, kebutuhan akan seorang teman.

Masalahnya, manusia yang beranjak dewasa ini, mulai lupa cara untuk berteman. Terbiasa dengan cara berinteraksi dalam pekerjaannya, dan bukan kehidupannya. Sehingga akhirnya pernikahan tidak bisa memenuhi kebutuhannya akan teman.

Kembali pada pertemanan, pada saat ini, entah bagaimana, ß sebagai laki-laki merasakan sungkan kalau misalnya ß harus mengajak teman laki-laki ß untuk misalnya shopping atau nonton di bioskop. Mungkin ß terpengaruh oleh pandangan umum, bahwa pada usia seperti ini, berteman seperti itu akan tampak aneh. Pendek kata: gay (buat temen-temen yang gay, sori, pointnya: banyak temen ß yang ‘gak akan mau diajak). Bersosialisasi dengan sesama laki-laki harus dilakukan untuk kegiatan-kegiatan yang lebih maskulin: camping, main sepak bola, panjat dinding, arung jeram.
Untuk kegiatan lainnya, seperti: nonton film baru, shopping bulanan, nyoba resto baru, nongkrong di cafe, potong rambut, sebaiknya dilakukan sendiri, atau secara massal (tidak berdua), atau dengan seorang perempuan.

Sekarang bagaimana kalau ß akhirnya jalan dengan seorang teman perempuan? Orang akan memandangnya sebagai suatu bentuk pendekatan atau mungkin malah sudah pacaran. Kenapa harus seperti itu, ß ‘gak tau. Seakan-akan dunia tidak bisa menerima kalau seorang laki-laki bisa berteman dengan seorang perempuan tanpa hubungan khusus, atau tanpa menuju hubungan khusus tersebut. Sehingga ketika ß memulai untuk jalan dengan seorang perempuan, ß selalu khawatir disalahartikan. Apalagi kalau jalan dengan seorang perempuan yang sedang mencari teman sehidup-sematinya. Gawat!
Kekhawatiran ini bukan tanpa sebab. ß seorang altruis berhati lemah. Kadang ß ‘gak tega mengecewakan atau disangka mempermainkan. Terpaksa. ß terpaksa menawarkan status, lalu dengan demikian malah terjerumus dalam permainan yang akan lebih mengecewakan.

Seorang laki-laki berteman dengan seorang perempuan memang menyenangkan. Sejauh kita bisa menjaganya tetap biasa dan casual. Walau sesuai kodratnya, perbedaan gender mungkin dapat memicu sapuan-sapuan seksual, dari tingkat kata-kata, sentuhan, pegangan tangan, pelukan, ciuman bahkan yang lebih dari sekedar sapuan-sapuan. Tetapi hal ini ternyata tidak harus terjadi sama sekali, walau mungkin suatu saat tingkat toleransi ini akan berkembang. Tingkat toleransi setiap orang bebeda-beda, sesuai dengan latar belakang dan kepribadiannya. Mungkin ada yang menganggap pegangan tangan sudah merupakan batas casual. Tetapi mungkin ada yang nyaman dengan ciuman, bahkan mungkin ada yang nyaman mencapai intercourse.
Tetapi sekali lagi, tidak harus.

Lalu muncul pertanyaan….
Haruskah seorang lelaki menikah?
Dapatkah seorang deist menikah di Indonesia?
Jawabannya nanti saja.
Masih terlalu menikmati menjadi pengamat.
Hubungan antar manusia adalah hal yang sangat menarik….

26
May

Reuni Akbar SMP Negeri 5 Bandung

Reuni Akbar, 5 dekade: 1960s, 1970s, 1980s, 1990s, 2000s.
17 Mei 2008 di Bumi Sangkuriang, Bandung. Rame banget.
Sayangnya 1990s dikit banget. ß 1995er. Hanya ketemu 5 orang 1995ers. ß juga kebetulan aja lagi ada di Bandung. Mungkin 1990s masih pada sibuk meniti karier…. Hmmm….

Mungkin foto-foto akan berbicara lebih banyak….

Foto-foto dari Kanti. Arigatou.

Img_1565

Img_1568

Img_1584

Img_1572

Img_1582

16
May

Sphere of My World

Sphere_3

Cuaca mendung di
suatu hari di awal bulan Mei. Bulan ke-5 di sistem penanggalan Masehi. Sudah
empat bulan aku menjalani hidup sebagai pengangguran. Menikmati, terhanyut,
muak dan segalanya. Setelah terbiasa bekerja sepanjang hari, sekarang bisa
membuang-buang waktu seperti manusia yang akan hidup selamanya.

Kadang-kadang
pergi ke kampus untuk membuka e-mail, mengurus ini-itu, rekomendasi,
surat-surat, bersosialisasi. Tetapi lebih sering aku tidak tidak keluar dari
rumah selama berhari-hari. Selama itu pula tidak merasakan perlunya bercukur,
mandi, ataupun mencari seseorang untuk berbicara seperti makhluk sosial
lainnya. Ini adalah suatu kehancuran nilai-nilai yang tiada seorang pun akan
tahu kecuali keluarga, di rumah tempat aku membunuh membantai waktu dan masa
mudaku.

Manusia hidup
selamanya saat ia mati. Inilah aku yang sedang mati. Menikmati kematian. Ini
adalah kematian saat bernafas. Pikiranku melayang tak keruan tak berguna, cabul
dan nostalgik. Begitu besar rahasia-rahasia hitam dalam hidupku yang berloncatan
mengganggu saat-saat sendiri ini.

Dalam pemikiran
kontemplatif, ada saat-saat manusia mati dan ada saat-saat manusia bangkit.
Kebangkitan rohani, kebangkitan spiritual (walau tetap skeptis akan kebangkitan
jasmani). Kebangkitan akan datang, dan pada saatnya aku akan tiada lagi merasa
mati, teralienasi.

Kehidupan.
Menjadi misteri bagi manusia pada saat ia berada dalam pemikiran
kontemplatifnya sendiri. Apakah manusia hidup untuk dirinya sendiri? Untuk
keluarganya? Untuk negaranya? Untuk bangsanya? Untuk dunia? Untuk Kemanusiaan?

Kehidupan….

Dalam siklus
kehidupan manusia ada 2 kondisi emosional yang ekstrim: kebahagiaan dan
kesedihan. Kebahagiaan….

Kebahagiaan
adalah perjumpaan dan kesedihan adalah perpisahan. Sesederhana itu.

Bagaimanapun aku
mencoba menghindari siklus ini. Suatu saat aku akan menghadapinya. Tidak
terhindarkan. Tidak ada yang abadi di dunia ini, semua adalah siklus. Tidak ada
yang abadi, bahkan kekosongan yang kujaga….

Dalam kekosongan
aku mendambakan perjumpaan. Dan pada saat perjumpaan itu aku akan bahagia.
Kemudian…. Aku berusaha menjaga kebahagiaan itu dengan pernak-pernik dengan
candu-candu. Dengan kegiatan-kegiatan bersama, dengan menikmati kebersamaan
itu. Tetapi tiada yang seindah saat perjumpaan. Di saat manusia perlahan
membuka diri terhadap sesamanya. Mengenal pribadinya, mengenal jiwanya. Dan
kemudian saat itu berakhir. Dan tiada suatu pernak-pernik, tiada suatu candu
yang akan mampu mengembalikan keindahan itu. Dan perjumpaan telah lewat….
Perjodohan telah usai.

Di persimpangan
jalan ini, sang manusia dihadapkan pada dua pilihan: berpisah atau bertahan.
Ketika manusia memilih untuk berpisah, manusia ini memiliki kesempatan untuk
merasakan perjumpaan berikutnya. Mungkin. Atau bahkan jera oleh perpisahan ini.
Dan memilih kekosongan.

Ketika manusia
memilih untuk bertahan, artinya manusia ini menunda untuk dipisahkan oleh suatu
kekuatan yang lebih besar, yang mungkin diluar kuasanya sendiri. Mungkin. Atau
mungkin lebih sederhana, dia bertahan sampai salah satu menyerah kepada
perpisahan.

Kesedihan….

Perpisahan….

Mungkin oleh
jarak, mungkin oleh kematian, mungkin akibat ketidakcocokan karakter. Tetapi
manusia tersebut terpisah. Setiap manusia mempunyai dunianya masing-masing. Aku
membayangkan setiap manusia berada di dalam sebuah sphere. Ketika manusia
berinteraksi dengan sesamanya, maka terdapat ruang irisan antara kedua buah
sphere masing-masing. Ukuran sphere ini berbeda-beda, tergantung seberapa besar
kehidupan sosialnya. Aku mempunyai ukuran sphere yang cukup kecil. Aku tidak
menyukai sosialisasi yang tidak penting. Karena ukuran sphere yang kecil ini,
irisan yang tercipta saat interaksi dengan manusia lain relatif besar bagiku.
Kerusakan yang akan diakibatkan oleh perpisahan akan besar. Walaupun
implikasinya keindahan yang tercipta oleh perjumpaan akan besar pula.

Saat ini dan
seterusnya aku menjaga kondisi sphere ini stabil. Biar semuanya hampa, biar
semuanya hambar, biar semuanya kosong. Biar aku senantiasa mendamba, supaya
bisa kukenal keindahan dalam mendamba.

 

Begitulah
teman-temanku….

Dari aku, yang
hanya akan selalu mendamba….

07
Jan

Earthquake 6.2 Richter

Manokwari, January 7th, 2008, 12:28 (+9 GMT)

This is my first “shocking” experience. I can really feel it moving under my feet, everybody rushes like crazy to the door. Staring at each other, a gasp for breath, a short pause, then a big smile and laughter….
We are safe. No worries, no human casualties, at least in our University.
But maybe these pictures can tell you more….

Ceilings are falling…. (Faculty of Mathematics and Natural Sciences)
Img_0012

The Faculty’s Meeting Room:we can peek outside….
Img_0038

The Office of the Head of Mathematic Departement: the cupboard…. oh what a mess….
Img_0056

The Stair: let’s go downstair…. Oh, no! Not you, fatty! You stay!
Img_0066

Agriproduct Technology Building: Let there be light….
Img_0087

01
Oct

01102007

Yesterday:
Still single with one daughter.
She’s married.
Bad combination.

Today:
They are blaming me?
I’m to blame alright.
They are accusing me?
I’m the scapegoat alright.
Please kill me if you can.

I wish people would have been more sensible.
I wish people would use their brain.

01
Oct

All Apologies

Nirvana

What else should I be
All apologies
What else should I say
Everyone is gay
What else should I write
I don’t have the right
What else should I be
All apologies

In the sun
In the sun I feel as one
In the sun
In the sun
Married
Buried

I wish I was like you
Easily amused
Find my nest of salt
Everything is my fault
I’ll take all the blame
Aqua seafoam shame
Sunburn with freezeburn
Choking on the ashes of her enemy

In the sun
In the sun I feel as one
In the sun
In the sun

(x2)
Married
Buried

Yeah, yeah yeah yeah

(x13)
All in all is all we are (All alone is all we all are?)

06
Aug

Stereonet

Wulff (Equal-Angle) Net, Schmidt (Equal-Area) Net, Schmidt Polar (Equal-Area) Net, Kalsbeek Counting Net.
Semua berdiameter 15 cm. Ketelitian 2 derajat. Digambar dengan CorelDraw 12. Dengan perhitungan koordinat (presisi 1 mikrometer) menggunakan MS-Excel 2003. Pokoknya bagus, tetapi untuk diprint, tentunya tergantung pada kualitas printer yang digunakan.
Kegunaan untuk analisis struktur dalam bidang geologi.
Format JPG, Resolusi 300 dpi, Grayscale.
Format CDR, kalau ada yang butuh silakan minta lewat e-mail. Gratis.
Digambar karena ‘gak punya Stereonet yang ukurannya sama semua dan bagus. Yang dibawa dari almamater tidak bagus karena ukuran beda-beda dan agak elips bentuknya.

Wulff Net:
Wulff

Koordinat Pusat Lingkaran: (105, 148.5)
Lingkaran Besar:
(Xp, Yp) = (105 + 75 * tan θ, 148.5)
D = 2 * ((Xp - 105)^2 + 75^2)^0.5

Lingkaran Kecil:
(Xp, Yp) = (105, 148.5 + 75 / cos θ)
(Xb, Yb) = (105 - 75 * sin θ, 148.5 + 75 * cos θ)
D = 2 * ((Xp - Xb)^2 + (Yp - Yb)^2 )^0.5

Schmidt Net:
Schmidt

Koordinat Pusat Lingkaran: (105, 148.5)
Lingkaran Besar:
(Xp, Yp) = ((105^2-(30+|θ|*75/45)^2+75^2)/(105-(30+|θ|*75/45))/2, 148.5)
D = 2 * (Xp - (30+|θ|*75/45))

Lingkaran Kecil:
(Xa, Ya) = (105, 223.5-|θ|*75/45)
(Xb, Yb) = (105 - 75 * sin θ, 148.5 + 75 * cos θ)
(Xp, Yp) = (105, (Xb^2 + Xp^2 - 2XpXb + Yb^2 - Ya^2) / 2 / (Yb - Ya))
D = 2 * (Yp - Ya)

Nah, Wulff Net ini ß ‘gak tahu persamaan benarnya, seharusnya adalah persamaan pangkat 4, tetapi untuk praktisnya pakai corel, ya seperti ini. Silakan dicoba aja, kalau hasilnya buruk, mungkin diperbaiki, kalau mau diskusi tentang persamaannya, ada masukan, dll. Silakan hubungi lewat e-mail ajah.

Polar Net:
Polar_1

Kalsbeek Net:
Kalsbeek