Pernah baca atau mendengar kalimat ini?
Knowledge is Power, but Character is More.
Kalimat di atas adalah motto dari SMU Negeri 3 Bandung.
Kontradiktif dengan pendapat β:
Stupidity is a Crime, but Arrogance is Not.
Kalau seorang manusia berkarakter baik, mungkin manusia ini tidak akan sombong atau arogan. β arogan. Jelas. Banget. Bangga. (dari premis ini jelas β bukan manusia berkarakter baik dan ideal menurut standar SMU 3 - f*ck it, β bukan anak SMU lagi, so I obviously don’t give a sh*t)
Secara empirik, kebodohan itu seringkali menyebabkan kerugian pada orang lain. Karena kebodohan, seringkali β jadi naik darah dan jelas β merasa rugi kalau harus membuang-buang waktu untuk memberi mutiara kepada babi. Jadi jelas sudah terbukti secara empirik.
No, seriously, kebodohan bisa merugikan secara material. Misalnya akibat kebodohan, seseorang merusak alat yang harganya mahal. Contoh lainnya: menghabis-habiskan dana untuk anggaran pendidikan, sedangkan mahasiswa yang dididik terlalu bodoh sehingga tidak lulus-lulus. β juga pernah menjadi mahasiswa yang terlalu bodoh ini. Jadi β juga pernah bersalah dalam konteks ini.
Menurut LaVeyan’s Satanism, Stupidity tercantum nomor satu pada daftar The Nine Satanic Sins. (β seorang deist, bukan seorang Satanist, hanya kebetulan mempelajari beberapa jenis aliran religius - termasuk Satanism - sebelum memilih deism)
Sekarang β jadi mahasiswa lagi. β berharap dengan menjadi seorang mahasiswa yang arogan, β akan malu kalau menjadi stupid dan harus lulus lama-lama. It’s some kind of self-motivating-method. Annoying to others, but I couldn’t care less.
1,5 tahun. Harga mati.
IPK 4,0: adalah bonus.
Arrogance tidak merugikan siapa-siapa, kecuali diri sendiri kok. Itu pun kalau manusia yang arogan ini sampai merasa rugi sendiri.
So what do you care anyway?
Did I hurt your pride?
So why bother?
You’re always welcome to try and disprove my arrogance.












